
Resep jamu kunyit tradisional yang biasanya disajikan dengan cara direbus kini mulai diubah menjadi produk dalam kemasan dengan proses produksi yang lebih modern. Perubahan ini dilakukan agar jamu bisa dipasarkan secara luas sambil tetap mempertahankan keamanan, stabilitas, dan kualitas zat aktif di dalamnya.
Upaya penyeragaman menjadi penting karena kandungan bioaktif seperti kurkumin perlu dipertahankan tingkat konsentrasinya agar manfaat yang diharapkan tetap stabil antara satu produk dengan produk lainnya.
Berikut tahapan yang biasanya dijalani untuk mengubah resep kunyit tradisional menjadi jamu dalam kemasan yang standar sesuai dengan Peraturan BPOM No. 10 Tahun 2024 yang dirilis dariProsiding Jurnal Universitas Muhammadiyah Gresik Konferensi Internasional Ilmu Sosial dan Humaniora.
1. Standardisasi bahan baku
Proses awal pembuatan jamu kunyit dalam kemasan dimulai dengan standarisasi bahan baku untuk memastikan kualitas rimpang yang digunakan. Rimpang kunyit dipilih melalui tahap pencucian dan pengeringan yang terkontrol agar bersih dari kotoran dan kontaminan. Berikutnya dilakukan pemeriksaan kadar air, kualitas visual, serta kandungan bioaktif dasar, dengan hasilnya dicatat dalam dokumen mutu agar konsistensi dapat terjaga.
2. Perumusan dan penyusunan formula utama
Setelah bahan baku tersedia, formulasi dibuat dalam bentuk master formula yang berisi komposisi, proporsi bahan, serta pelarut seperti maltodekstrin atau pemanis alami. Seluruh parameter proses, mulai dari suhu, durasi, hingga perbandingan bahan, dicatat agar produk tetap konsisten antar-batch. Untuk produk kering digunakan cara penggilingan, penyaringan, atauspray-drying, sedangkan untuk produk cair dilakukan proses pengambilan yang terkendali, pencampuran merata, dan penyaringan.
3. Pengawasan terhadap proses ekstraksi dan pengolahan awal
Proses pengekstrakan dilakukan dengan parameter suhu dan durasi yang telah ditetapkan agar memaksimalkan kandungan senyawa bioaktif, seperti kurkumin, tanpa menyebabkan kerusakan. Setelah proses ekstraksi, dilakukan pemisahan padatan, pembersihan, dan jika diperlukan, lakukan pengenceran. Langkah ini penting untuk menjaga rasa, bau, dan ketahanan produk selama penyimpanan.
4. Pasteurisasi / sterilisasi
Produk cair berikutnya diolah secara mikrobiologis melalui proses pasteurisasi dengan metode HTST atau LTLT sesuai sifat produk. Tujuan dari pasteurisasi adalah mengurangi jumlah mikroba tanpa mengganggu sifat organoleptik, sedangkan sterilisasi atau UHT dipilih jika diperlukan masa simpan yang lebih lama. Pemilihan metode tergantung pada tujuan yang ditetapkan. shelf-life, sifat barang, serta kemampuan fasilitas produksi.
5. Teknik pengawetan dan pengaturan kadar air
Pada produk kering, proses pengawetan dilakukan dengan mengontrol tingkat kelembapan (water activity) agar tetap rendah dan stabil, serta menggunakan kemasan yang mampu mengatasi kelembapan. Produk cair selain dipasteurisasi bisa ditambahkan bahan pengawet sesuai aturan atau disimpan dalam kondisi dingin. Semua penggunaan bahan tambahan harus tercantum pada label sebagai bentuk kejelasan bagi konsumen.
6. Pemilihan kemasan dan kesesuaian prosedur
Jenis kemasan dipilih sesuai dengan bentuk produk, misalnya sachet laminasi untuk bahan bubuk, botol PET atau kaca untuk minuman siap minum, kantong penyaring untuk teh kemasan, serta botol kaca tebal untukcold-pressed. Kemasan perlu mampu melindungi barang dari kelembapan, oksidasi, dan pencemaran selama masa penyimpanan serta pengiriman. Selain itu, kemasan harus dilengkapi dengan label yang sesuai dengan aturan yang berlaku.BPOM, mencakup nama produk, komposisi, petunjuk penggunaan, tanggal produksi, tanggal kedaluwarsa, serta pernyataan yang diperbolehkan.
7. Pengujian kualitas, pengujian stabilitas, dan pencantuman label
Sebelum dipasarkan, produk menjalani berbagai tahap pengujian kualitas. Pengujian mikrobiologi dilakukan untuk memastikan bahwa produk tidak mengandung patogen, sementara pengujian fisiko-kimia meliputi pemeriksaan pH, kadar air, dan Brix pada produk cair. Selain itu, kandungan marker bioaktif seperti kurkumin juga dianalisis sebagai indikator konsistensi. Uji stabilitas dalam kondisi penyimpanan normal maupun terakselerasi dilakukan untuk menentukan masa simpan dan kondisi penyimpanan yang optimal.
Seluruh rangkaian proses ini didukung dengan penerapanGood Manufacturing Practices (Sistem GMP) serta sistem HACCP digunakan untuk mengidentifikasi dan mengendalikan ancaman potensial. Dokumen yang lengkap, mulai dari sertifikat bahan baku, catatan produksi, hingga hasil pengujian kualitas, merupakan dasar penting dalam memastikan produk aman dan sesuai dengan peraturan.
Untuk produk yang membutuhkan sistem penyimpanan suhu rendah seperticold-pressed, distribusi dilakukan dengan pengawasan ketat agar kualitas tetap terjaga hingga sampai ke tangan konsumen. Dengan penerapan proses yang standar, jamu kunyit tidak hanya mempertahankan nilai tradisionalnya, tetapi juga memenuhi persyaratan keamanan, kualitas, dan regulasi modern sehingga layak dipasarkan secara luas.
KOMENTAR